JAKARTA — Ketua Panitia May Day 2026 sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menampik tudingan yang mengaitkan massa buruh dengan kerusuhan yang terjadi di Bandung, Jawa Barat, pada Jumat malam, 1 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa aksi anarkis tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan agenda peringatan Hari Buruh Internasional.

​Andi menyatakan, berdasarkan pemantauan dan koordinasi internal, tidak ada satu pun kelompok buruh yang menggelar aksi di titik lokasi kerusuhan. “Saya tegaskan sekali lagi, kerusuhan di Bandung tidak dilakukan oleh kelompok buruh. Tidak ada aksi buruh pada saat itu. Itu dilakukan oleh kelompok yang dinamakan anarko,” ujar Andi dalam keterangannya di Hotel Grand Mansion, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 4 Mei 2026.

​Atas kejadian tersebut, Andi mendesak aparat kepolisian untuk menindak tegas para pelaku. Ia berharap Polda Jawa Barat dapat melakukan penegakan hukum secara terukur terhadap kelompok-kelompok yang memanfaatkan momentum perayaan buruh untuk menebar ketidaktertiban.

​”Kami meminta pihak kepolisian, khususnya Polda Jawa Barat, untuk dapat menindak dengan tegas dan terukur sesuai hukum yang berlaku. Karena gerakan buruh di Jawa Barat hampir seluruhnya bergerak ke Jakarta (untuk perayaan),” kata Andi menambahkan.

Kontras dengan Perayaan yang Damai

​Dalam kesempatan yang sama, Andi Gani mengklaim bahwa perayaan May Day 2026 di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar dan paling damai di dunia. Ia membandingkan kedisiplinan massa buruh di Indonesia dengan aksi serupa di beberapa negara Eropa yang justru berujung ricuh.

​”May Day 2026 adalah May Day terbesar di dunia kemarin. Tepuk tangan buat buruh di Indonesia. Luar biasa. Di beberapa negara, seperti Paris di Eropa, justru terjadi kerusuhan. Indonesia mampu mengerahkan massa paling besar dengan cara yang damai,” ungkapnya.

Respons Kepolisian

​Sebelumnya, Kapolda Jawa Barat Irjen Rudi Setiawan juga telah mengonfirmasi bahwa massa yang terlibat kerusuhan di kawasan Jalan Tamansari, Bandung, bukan berasal dari elemen buruh. Rudi menjelaskan bahwa pada hari peringatan tersebut, aksi penyampaian aspirasi yang terpantau hanya dilakukan oleh mahasiswa di sekitar kawasan Jatinangor, Sumedang, dan lingkungan DPRD Jawa Barat.

​Menurut Rudi, kericuhan di Jalan Tamansari dipicu oleh sekitar 150 orang yang tidak dikenal. Kelompok tersebut, kata dia, memiliki ciri khas yang berbeda dari massa aksi pada umumnya.

​”Ternyata pada sore hari menjelang malam terlihat 150-an massa tidak dikenal, dengan ciri-ciri berpakaian hitam, menutup muka, tentunya menutup muka ini berusaha untuk menghindari agar tidak diketahui identitasnya, yang kemudian membawa bahan bakar,” ujar Rudi, sebagaimana dikutip dari detikJabar.

​Hingga saat ini, pihak kepolisian terus melakukan pendalaman atas identitas kelompok tersebut untuk memastikan motif di balik kerusuhan yang mencatut momentum Hari Buruh itu.