WASHINGTON D.C. – Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, tensi geopolitik global berayun drastis dari ambang kiamat menuju meja perundingan. Presiden Donald Trump, yang pada Selasa pagi sesumbar akan menghapus sebuah peradaban dari peta dunia, justru mengakhiri hari dengan jabat tangan virtual berupa kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan Teheran.

​Namun, alih-alih disambut dengan napas lega, langkah ini justru memicu badai kritik baru yang unik. Para penentang Trump kini mempopulerkan sebuah label baru untuk sang panglima tertinggi: TACO.

Dari Tarif ke Teheran: Evolusi “Trump Always Cops Out”

​Akronim TACO—singkatan dari Trump Always Cops Out (Trump Selalu Menghindar)—awalnya lahir di koridor dingin Wall Street. Para analis pasar menggunakannya untuk mengejek kebijakan tarif timbal balik tinggi yang diumumkan Trump pada awal 2025. Saat itu, para pialang bertaruh bahwa Trump akan menarik kembali ancaman ekonominya begitu pasar bereaksi negatif.

​Kini, istilah tersebut diambil alih oleh kekuatan politik di Washington. Komite Nasional Demokrat (DNC) secara agresif menggunakan akronim ini untuk membingkai ulang kebijakan luar negeri Trump bukan sebagai langkah perdamaian, melainkan sebagai bentuk “kepengecutan” strategis.

​”Ia menggonggong keras untuk menakut-nakuti dunia, tapi selalu lari saat harus menggigit,” ujar salah satu sumber internal DNC yang dikutip media lokal.

 

Kronologi 24 Jam: Antara Genosida dan Gencatan Senjata

​Dinamika ini bermula pada Selasa pagi yang mencekam. Melalui media sosial, Trump melontarkan ancaman yang membuat para diplomat di seluruh dunia berkeringat dingin. Ia menyatakan bahwa jika Iran tidak tunduk, maka “seluruh peradaban akan mati malam ini.”

​Reaksi dari kelompok liberal dan aktivis kemanusiaan meledak seketika:

  • Tuduhan Genosida: Para kritikus menuduh Trump sedang merencanakan kejahatan perang skala besar.
  • Amandemen ke-25: Sejumlah tokoh hukum dan politikus sayap kiri mendesak kabinet untuk segera mencopot Trump dari jabatannya karena dianggap tidak stabil secara mental.

​Namun, plot berputar di penghujung hari. Gedung Putih mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran demi melanjutkan negosiasi.

Paradoks Kritik: Damai yang Tidak Dirayakan

​Hal yang menarik adalah pergeseran narasi para kritikus. Begitu ancaman “genosida” yang mereka takutkan batal terjadi, fokus kritik tidak beralih pada apresiasi terhadap perdamaian, melainkan kembali pada ejekan TACO.

​Para pengamat politik menilai bahwa Trump terjebak dalam dilema citra yang ia ciptakan sendiri. Di satu sisi, retorika agresifnya memicu ketakutan akan perang; di sisi lain, keputusannya untuk mundur dari ambang konflik justru memperkuat narasi lawan politiknya bahwa ia adalah pemimpin yang tidak konsisten dan “pengecut”.

​Hingga berita ini diturunkan, tagar #TACO masih memuncaki tangga tren di media sosial, menjadi simbol baru bagi oposisi untuk menyerang kredibilitas sang Presiden di panggung internasional. Bagi Trump, gencatan senjata ini mungkin menyelamatkan nyawa, namun di dalam negeri, ia justru kehilangan kendali atas narasi kepemimpinannya.