Sinyal Perlawanan dari Ruang HCU
Tiga pekan pasca-penyiraman air keras, aktivis Andrie Yunus akhirnya buka suara. Di balik jeruji rumah sakit, ia mengirim pesan: perjuangan belum usai, meski motif para prajurit BAIS masih gelap.
JAKARTA – Suaranya terdengar stabil, meski gurat kepedihan belum sepenuhnya hilang dari wajah yang kini terbalut perban. Dari balik ruang High Care Unit (HCU), Andrie Yunus, aktivis yang menjadi sasaran teror penyiraman air keras, akhirnya menyampaikan pesan publik pertamanya. Melalui unggahan video di akun Instagram @kontras_update pada Kamis, 2 April 2026, Andrie menyapa para pendukungnya dengan nada yang menolak untuk tunduk.
”Terima kasih atas dukungan untuk menghadapi teror dari orang-orang pengecut,” ujar Andrie dalam rekaman yang diambil sehari sebelumnya. Ia menutup pesannya dengan pekikan khas gerakan pro-demokrasi: “A luta continua! Panjang umur perjuangan!”
Pesan singkat itu menjadi oase di tengah ketidakpastian pengungkapan kasus yang menyeret anggota militer aktif. Saat ini, kondisi Andrie masih dipantau ketat. Pihak keluarga dan tim kuasa hukum membatasi kunjungan guna memastikan proses pemulihan luka bakar di wajah, dada, tangan, serta matanya berjalan optimal.
Jejak Intelijen di Salemba
Tragedi yang menimpa Andrie bermula pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Usai mengisi diskusi tentang “Remiliterisme” di kantor YLBHI, Salemba, Andrie dicegat orang tak dikenal. Cairan korosif menghantam tubuhnya, menyisakan luka serius yang memaksa koalisi masyarakat sipil berteriak lantang atas kembalinya pola-pola intimidasi Orde Baru.
Hanya berselang sepekan, tabir pelaku mulai tersingkap, namun justru menimbulkan pertanyaan baru yang lebih besar. Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI meringkus empat prajurit yang diduga kuat sebagai eksekutor:
- Kapten NDP
- Lettu SL
- Lettu BHW
- Serda ES
Keempatnya bukanlah prajurit sembarangan. Mereka bertugas di Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI—sebuah satuan elite di jantung intelijen militer Indonesia. Sejak 18 Maret, mereka telah menghuni instalasi tahanan militer Pomdam Jaya Guntur.
Teka-teki Motif yang Terkunci
Meski para tersangka sudah di tangan, “otak” di balik serangan ini masih menjadi misteri yang dipelihara. Polda Metro Jaya, yang sempat mengendus keterlibatan warga sipil berinisial BHC dan MAK, akhirnya melimpahkan seluruh perkara ke Puspom TNI dengan dalih tidak adanya keterlibatan non-militer dalam temuan terbaru.
Kapuspen TNI, Brigjen Aulia Dwi Nasrullah, berjanji proses hukum akan berjalan terbuka dan profesional dengan jeratan pasal penganiayaan. Namun, hingga detik ini, baik Mabes TNI maupun Polri bungkam seribu bahasa soal motif.
”Persoalannya bukan sekadar siapa yang menyiram, tapi siapa yang memberi perintah dan apa kepentingannya,” ujar salah satu kolega Andrie di KontraS.
Apakah ini aksi spontanitas prajurit yang tersinggung dengan kritik Andrie soal remiliterisme, ataukah ini operasi terstruktur untuk membungkam suara kritis? Selama motif belum dibuka ke publik, aroma “operasi senyap” akan terus membayangi kasus ini.
Bagi Andrie Yunus, perban di tubuhnya adalah bukti bahwa harga untuk sebuah kritik di negeri ini masih sangat mahal. Namun, sebagaimana pesannya dari ruang HCU, ia menolak untuk diam.





Tinggalkan Balasan