Siti Mawarni, Sebuah Kritik Sosial di Balik Senandung Melayu yang Viral
LABUHANBATU — Media sosial belakangan ini diramaikan oleh sebuah lagu bertajuk “Siti Mawarni”. Alunan nadanya yang sederhana namun lekat dengan nuansa Melayu membuat lagu ini banyak digunakan sebagai latar musik unggahan oleh warganet. Namun, jauh di balik popularitasnya, lagu ini merupakan manifestasi dari keresahan terhadap persoalan kronis peredaran narkotika.
Adalah Amin Wahyudi Harahap, warga Labuhanbatu, Sumatera Utara, sosok di balik terciptanya lagu tersebut. Amin mengungkapkan bahwa lirik lagu Siti Mawarni bukanlah sekadar gubahan fiksi untuk hiburan semata, melainkan sebuah ungkapan kegelisahan pribadinya terhadap situasi lingkungan sekitar.
Amin menjelaskan, Siti Mawarni bukanlah sosok nyata yang ia temui di dunia perkataan. Karakter tersebut, bersama karakter lain bernama Solehudin, sengaja diciptakan untuk mendukung narasi lirik yang ia susun.
”Siti Mawarni ini adalah tokoh fiktif. Awalnya hendak saya beri nama Siti Markonah, namun nama itu lebih lekat dengan budaya Betawi di Jakarta. Saya kemudian memilih nama yang lebih dekat dengan daerah saya yang kental dengan budaya puisi dan Melayu,” kata Amin dalam wawancara, Minggu (26/4/2026).
Pertimbangan Budaya dan Religi
Dalam menyusun lirik, Amin mengaku sangat mempertimbangkan aspek kepantasan, terutama terkait latar belakang budaya dan agama yang kuat di masyarakatnya. Ia merasa tidak elok jika menyandingkan nama-nama yang dihormati dalam sejarah Islam dengan tema yang bersinggungan dengan narkotika.
”Tidak elok rasanya jika nama Siti Fatimah binti Rasulullah saya sandingkan dengan lirik mengenai narkoba. Itulah alasan mengapa saya memilih nama Siti Mawarni sebagai tokoh fiktif dalam lagu ini,” ujarnya.
Kegelisahan terhadap Narkotika
Inspirasi utama lagu ini berakar dari realitas sosial yang dilihat Amin sehari-hari. Di usianya yang menginjak 42 tahun, ia mengaku prihatin melihat pemberitaan mengenai penangkapan kasus narkoba yang seolah tidak pernah ada habisnya dari waktu ke waktu.
Ia menekankan bahwa kritik dalam lagunya tidak ditujukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebuah refleksi atas kondisi zaman. “Dari saat saya masih muda hingga sekarang berusia 42 tahun, mengapa masalah narkoba ini tidak juga tuntas. Kita tidak menyalahkan pejabat sekarang atau yang terdahulu, tetapi ini adalah kegelisahan mengapa peredarannya terus ada,” ungkap Amin.
Sebagai seorang ayah, Amin memandang maraknya peredaran zat terlarang tersebut sebagai ancaman nyata bagi masa depan generasi muda, termasuk anak-anaknya sendiri. Rasa tanggung jawab untuk melindungi keluarga dan lingkungan inilah yang kemudian ia tuangkan dalam bait-bait lagu.
”Saya memiliki anak perempuan dan anak-anak yang masih muda. Yang saya khawatirkan adalah jika masalah narkoba ini terus berlanjut tanpa henti,” pungkasnya.
Kini, lagu Siti Mawarni telah bertransformasi dari sekadar kegelisahan seorang warga di Labuhanbatu menjadi pengingat kolektif di ruang digital mengenai ancaman narkotika yang masih membayangi masyarakat.





Tinggalkan Balasan