Jejak Siwa di Pesisir Pangandaran : Teka-teki Candi Batu Kalde
Di balik rimbunnya Cagar Alam Pananjung, Pangandaran, tergeletak reruntuhan yang menyimpan fragmen sejarah Hindu abad ke-8. Benarkah ia sezaman dengan Candi Dieng dan Cangkuang?
Gundukan batu itu nyaris tak lagi menyerupai bangunan. Di tengah rimbun vegetasi Cagar Alam Pananjung, Pangandaran, struktur yang dikenal sebagai Candi Batu Kalde ini lebih tampak seperti onggokan material purba yang kalah oleh zaman. Namun, bagi para pembaca sejarah, situs ini adalah potongan puzzle penting mengenai persebaran Hindu Siwa di Tatar Sunda.
Penamaan “Batu Kalde” sendiri mengandung kekeliruan morfologis. Secara harfiah, kalde berarti keledai. Namun, jika diamati lebih saksama, fragmen arca yang tersisa di sana justru menampilkan anatomi seekor anak sapi yang tengah mendekam. Dalam kosmologi Hindu, figur ini tak lain adalah Nandi—kendaraan suci Dewa Siwa. Keberadaan Nandi merupakan stempel tak terbantahkan bahwa situs ini dahulunya adalah tempat pemujaan bagi penganut Siwaistik.
Sinkretisme dan Penolakan Halus
Eksistensi candi ini diduga kuat berhulu pada awal abad ke-8. Catatan tutur menyebutkan periode ini ditandai dengan kedatangan para pendeta dari Hindustan ke jantung Kerajaan Sunda. Kala itu, takhta dipegang oleh Prabu Tarusbawa. Sang Raja memberikan restu bagi para pendeta untuk menyebarkan agama Hindu, namun dengan satu syarat ketat: hanya boleh diajarkan kepada masyarakat yang belum memiliki keyakinan.
Di sinilah letak keunikan sosiologis Tatar Sunda masa itu. Para pendeta Hindustan dikabarkan tertegun menemukan fakta bahwa mayoritas orang Sunda telah memiliki pegangan hidup yang mapan. Meski bukan Hindu, ajaran asli ini mengenal konsep ketuhanan tunggal yang mereka sebut Sanghyang Tunggal atau Sanghyang Kersa—sebuah kekuatan purba yang tak kasat mata namun bersemayam dalam keseharian.
Perbedaan fundamental pun terlihat dari ritus kematian. Alih-alih membakar jenazah (ngaben) layaknya tradisi Hindu India, masyarakat Sunda kuno lebih memilih menguburkan jasad di pegunungan atau menghanyutkannya ke sungai (panireman). Benturan budaya yang halus ini membuat para misionaris Hindu bergerak ke wilayah-wilayah kantong yang dianggap masih “kosong”.
Benang Merah Abad Kedelapan
Meski belum ada konsensus akademik yang final, tarikh pembangunan Candi Batu Kalde diyakini berkelindan dengan pembangunan candi-candi lain di Jawa Barat. Ada kemiripan pola arsitektur dan material dengan Candi Bojongemas di Majalaya, Bojongmenje di Rancaekek, hingga Candi Cangkuang di Garut. Semuanya mengerucut pada satu era: ekspansi keagamaan di abad ke-8.
Pada masa kejayaan Kerajaan Galuh, situs di Pananjung ini diduga tetap dipelihara sebagai bentuk toleransi beragama. Penguasa Galuh, meski mungkin tidak sepenuhnya menganut Hindu Siwa, berkepentingan menjamin keamanan ibadah rakyatnya. Candi menjadi simbol pengayoman negara terhadap keberagaman keyakinan.
Namun, kejayaan itu luruh seiring pudarnya pamor Kerajaan Galuh. Masuknya pengaruh Islam secara masif di pesisir selatan perlahan membuat ritual di Candi Batu Kalde senyap. Tanpa perawatan dan ditinggalkan pemeluknya, candi ini pun meranggas. Kini, ia hanya menyisakan sunyi dan arca sapi yang membatu, saksi bisu betapa dinamisnya arus keyakinan di tanah Pananjung ribuan tahun silam.





Tinggalkan Balasan